Dari Idul Fitri ke Lebaran (Karya : Faisal Zaini Dahlan)

Dalam tulisannya “Lebaran di Indonesia” (2017), Azyumardi Azra memastikan bahwa perayaan Idul Fitri di Indonesia merupakan yang paling semarak di dunia. Sebagai ahli Sejarah Komparatif Sosial-Intelektual Islam, Azra mengakui kemeriahan menyambut akhir Ramadhan seperti di Indonesia, tidak ia temukan di kawasan dunia muslim lainnya. Di tanah air, hari besar keagamaan Islam yang kemudian lebih dikenal dengan ‘lebaran’ itu menurutnya ternyata sudah ‘melebar’ jauh melewati batas-batas ritual dan bahkan telah menjadi peristiwa cultural atau cultural feest. Meski demikian menurut Azra, substansi keagamaan dari rangkaian ritual Idul Fitri sendiri sepenuhnya tetap berjalan mengikuti ortodoksi, sesuai tuntunan fikih. Realitas ini menunjukkan bahwa Islam telah melekat dalam budaya Indonesia.

Ritual Idul Fitri

Idul Fitri sebagai hari raya umat Islam, tidak bisa dilepaskan dari ritual puasa Ramadhan. Menurut almarhum Cak Nur dalam 30 Sajian Ruhani Renungan di Bulan Ramadhan (2007: 272), hari raya Idul Fitri merupakan puncak pelaksanaan ibadah puasa yang maknanya berkaitan erat dengan tujuan puasa sendiri. Secara etimologi, menurutnya Idul Fitri berarti hari raya kesucian, atau hari raya kemenangan, yakni kemenangan kembali mencapai kesucian (fitri). Sedangkan ibadah puasa merupakan sarana penyucian diri bagi yang menjalankannya dengan penuh kesungguhan dan ketulusan. Karenanya, kemenangan ini tentu hanya diperoleh bagi yang menjalankan ibadah puasa sebulan penuh.

Ritualitas Idul Fitri juga terkait dengan kewajiban menunaikan zakat fitrah. Menurut alm. Dawam Rahardjo dalam Ensiklopedi Al-Qur’an (1996:39), zakat fitrah adalah simbol yang menandakan seseorang telah kembali kepada fitrahnya, yakni fitrah kemanusiaan. Sedangkan menurut alm. Cak Nur (2007: 256,275) zakat fitrah pada hakikatnya merupakan simbolisasi konsekuensi sosial ibadah puasa. Intinya, adalah memberikan kebahagiaan kepada orang yang tidak berpunya. Lewat gerakan zakat fitrah menurut Cak Nur, jangan sampai pada hari raya Idul Fitri ada yang bersedih dan meminta-minta, padahal hari itu adalah hari kebahagiaan.

Selain zakat fitrah, sisi ritual Idul Fitri juga terdapat pada anjuran menggemakan takbir. Menurut Cak Nur (2007: 274-5) anjuran bertakbir mengasumsikan bahwa muslim yang telah berpuasa berada dalam kemenangan atau kesucian, sehingga yang ada hanya Tuhan dan selainnya dianggap tidak berarti apa-apa. Pasca melewati tingkatan-tingkatan lahiriah, nafsiah, hingga ruhaniah dalam berpuasa, seseorang dinyatakan telah mencapai kesucian. Manusia telah kembali kepada asalnya sehingga yang diperlukan kemudian hanyalah mengagungkan nama dan kebesaran Allah.

Ritual utama dari Idul Fitri tentunya Shalat Id baik di masjid maupun di lapangan, yang kemudian dilanjutkan dengan saling memaafkan. Secara historis diriwayatkan bahwa Idul Fitri pertama berlangsung pasca perang Badar di bulan Ramadhan tahun kedua Hijriyah. Rasulullah dan para sahabat berhasil meraih dua kemenangan sekaligus, yakni menang dalam perang Badar sendiri dan keberhasilan menyelesaikan ibadah puasa. Karena itulah, shalat Id pertama ini dilakukan Rasulullah dan para sahabat dalam kondisi badan letih dan penuh luka yang belum pulih. Rasulullah harus bersandar pada sahabat Bilal ketika menyampaikan khutbahnya.

Kultur Lebaran

Jika Idul Fitri identik dengan ibadah keagamaan, maka istilah ‘lebaran’ lebih menunjukkan sisi kultural yang telah melintasi batas dan berjalin berkelindan dengan sisi ritual hari raya umat Muslim itu. Tidak hanya di Indonesia tetapi juga di berbagai negeri muslim lainnya, Idul Fitri telah menjadi budaya yang diekspresikan secara beragam. Di negara-negara Timur Tengah misalnya, aspek sosial perayaan tersebut lebih dimeriahkan dengan saling memberi hadiah, sebuah kultur yang tidak begitu popular di tanah air.

Di Indonesia, berbagai ekspresi budaya berlangsung pra dan pasca Idul Fitri di berbagai tempat, dari berskala lokal hingga nasional. Sejak dari menyiapkan kuliner tradisional tertentu seperti ‘lamang’ dan ‘ketupat’, sampai perilaku mudik, halal bi halal, ziarah makam, THR, pakaian baru, promo Ramadhan, hingga wisata dan reunion. Uniknya, tradisi yang sudah menjadi budaya nasional ini berlangsung lintas etnis dan agama. Begitu pula pemerintah bahkan mengeluarkan regulasi terkait, seperti kebijakan THR dan cuti bersama Lebaran.

Berbagai kultur ‘lebaran’ yang mengiringi perayaan Idul Fitri dan telah menjadi budaya lintas etnis dan agama itu, tentunya absah saja ditradisikan. Seperti disebutkan Azra bahwa dengan melintasi batas-batas ritual, lebaran di Indonesia telah menjadi peristiwa cultural, semacam cultural feest yang membuktikan bahwa Islam Indonesia telah culturally embedded, melekat dalam budaya bangsa Indonesia.

Menurut Cak Nur (2007: 259) perayaan Idul Fitri sebenarnya merupakan kemenangan secara batiniah atau ruhani, tetapi kemudian diekspresikan dalam bentuk lahiriah sebagai luapan kebahagiaan batin. Namun tentunya beragam ekspresi itu tidak sampai tercerabut dari nilai-nilai yang dikandung oleh Idul Fitri itu sendiri. Secara historis, disyariatkannya Idul Fitri dan Idul Adha bagi umat Islam, justru untuk mengganti dua hari raya Arab Jahiliyah, Nairuz dan Maharjan yang penuh pesta pora, tari-tarian dan nyanyi-nyanyian serta hidangan lezat dengan minuman memabukkan. Artinya, jika dirayakan secara berlebihan, mubazir dan foya-foya, bahkan mencederai aturan Tuhan dan nilai-nilai kemanusiaan, maka sebenarnya kita bukan berlebaran, tetapi tengah meniru tradisi Nairuz dan Maharjan. Na’udzubillah, Wallahu a’lam. (*)

TULISAN INI DIMUAT DI HARIAN PADANG EKSPRES TERBITAN 23 JUNI 2018

Note : Bapak Faisal Zaini Dahlah (Faisal, M.Ag) adalah salah satu dari dosen FUSA UIN IB yang aktif menulis di media masa khususnya Padang Ekspress.
Selain up to date berdasarkan isu dan kondisi terkini di masyarakat, tulisan Beliau juga kental dengan muatan islami sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

Semoga tulisan ini bisa menjadi triger bagi dosen FUSA lainnya untuk lebih aktif lagi menulis dan berbagi karya pemikirannya agar dapat diperoleh manfaatnya oleh masyakat.