Hijrah Nan Hilang

Oleh: Dr. Zulheldi, M.Ag
Dosen Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir

Tahun baru hijriah kembali menyapa. Ia datang seperti angin lembut yang menyentuh kulit, namun kerap tak terasa di hati. Di mimbar-mimbar dan baliho-baliho, gema 1 Muharram disambut dengan parade kata-kata dan seremonial tahunan yang begitu megah. Namun, di balik hingar-bingar peringatan itu, ruh hijrah perlahan kehilangan makna. Ia tidak lagi dipahami sebagai ajakan untuk berubah secara mendasar, melainkan hanya menjadi penanda kalender yang dilewati tanpa kesadaran. Umat Islam, yang dahulu hijrah adalah nafas perjuangan mereka, kini banyak yang hidup dalam genangan kebiasaan lama yang jauh dari nilai-nilai ilahi. Aqidah ditukar dengan pragmatisme, ibadah diperas menjadi rutinitas, dan akhlak dipinggirkan demi pencitraan. Ironisnya, semakin banyak yang merasa cukup Islami hanya dengan tampilan, bukan dengan perjuangan batin. Inilah hijrah yang hilang, bukan karena tak mungkin, tetapi karena tak lagi dicari.

Hijrah bukan sekadar kisah perpindahan Rasulullah SAW. dari Makkah ke Madinah. Ia bukan sekadar jejak kaki yang menembus padang pasir, bukan pula hanya peristiwa sejarah yang dikaji ulang setiap tahun. Hijrah adalah pernyataan iman yang hidup, sebuah revolusi jiwa yang mengubah arah hidup sepenuhnya, dari tunduk kepada hawa nafsu menuju kepatuhan mutlak kepada Allah. Namun, sayangnya, makna itu kini mengering di lisan, terperangkap dalam teks-teks peringatan tahunan tanpa ruh perubahan. Banyak umat yang memuja romantisme hijrah, tetapi menolak perjuangannya. Mereka mengagumi keberanian Rasulullah, tetapi enggan meninggalkan dunia-dunia kecil yang membuat mereka jauh dari Tuhan. Hijrah bukan tentang pindah tempat, tapi tentang pindah hati. Dari gelap menuju cahaya, dari keraguan menuju keyakinan, dari keakuan menuju penghambaan. Bila hijrah hanya dipahami secara geografis, maka ia tak ubahnya perjalanan biasa yang kehilangan tujuan suci.

Hakikat hijrah adalah perubahan menyeluruh. Bukan tambalan sesaat di permukaan, melainkan pembalikan arah hidup secara total kepada Allah. Hijrah sejati adalah sikap batin yang menolak kompromi dengan kebatilan, meski ia datang dalam rupa yang menggiurkan dan bernama “modernitas”, “toleransi”, atau “kemajuan”. Inilah yang nyaris hilang dalam kehidupan umat hari ini, yakni keberanian melepaskan diri dari kungkungan sistem nilai yang bertentangan dengan tauhid. Kita menyaksikan banyak orang berbicara tentang hijrah, bahkan menjadikannya tren populer di media sosial, tetapi semangat untuk patuh sepenuhnya kepada Allah justru menguap dalam praktik hidup mereka. Shalat tetap dilakukan, namun bisnis tetap penuh riba. Kopiah dan jilbab dipakai, tapi perilaku tetap culas. Hijrah bukan tentang tampil Islami, tetapi tentang tunduk secara kaffah, seutuhnya, sepenuhnya, tanpa negosiasi. Bila hijrah tidak menghadirkan perubahan nilai dan komitmen, maka ia hanya menjadi simbol yang kosong makna.

Hijrah yang hilang

Kini, kita hidup di tengah umat yang tampaknya bergerak, tetapi sesungguhnya kehilangan arah. Islam masih terucap di lisan, namun hijrah sebagai kesadaran ruhani telah jauh dari sanubari. Banyak yang mengaku Muslim, tetapi tak lagi risau dengan jauhnya diri dari nilai-nilai Islam. Kita menyaksikan geliat semangat keislaman di permukaan, maraknya komunitas hijrah, majelis-majelis populer, hingga atribut-atribut Islami yang menjamur. Namun, substansi hijrah sebagai proses meninggalkan kebatilan dan mendekat kepada Allah seakan terlupakan. Umat terlena oleh ritual, terbius oleh simbol, dan

kehilangan rasa gentar kepada Allah. Mereka merasa cukup menjadi baik menurut standar publik, bukan menurut neraca iman. Padahal, hijrah sejati lahir dari kesadaran mendalam akan kefanaan dunia dan kerinduan tulus untuk hidup dalam naungan petunjuk. Ketika kesadaran ini mati, maka hijrah tak hanya hilang dari perbuatan, tapi juga dari cita-cita. Dan itulah kehilangan yang paling tragis.

Krisis terbesar umat Islam hari ini bukanlah kekurangan masjid, minimnya ceramah, atau langkanya komunitas dakwah, melainkan runtuhnya keikhlasan dalam bertauhid. Banyak yang masih mengucap “Lā ilāha illallāh”, namun hatinya telah dipenuhi ilah-ilah baru bernama jabatan, harta, dan gengsi. Tauhid yang seharusnya menjadi pusat hidup, kini hanya tinggal slogan kosong yang dipajang di dinding atau diselipkan dalam khutbah. Kita telah menyaksikan umat yang rela menjual prinsip demi promosi jabatan, berkompromi dengan kebatilan demi akses kuasa, dan memanipulasi agama demi kepentingan pribadi. Ini bukan sekadar kemunduran, tetapi penghianatan terhadap pesan hijrah itu sendiri. Bukankah hijrah Nabi adalah bukti bahwa tauhid harus ditegakkan meski harus kehilangan tanah kelahiran, harta, bahkan nyawa? Ketika umat mulai lebih takut kehilangan dunia daripada kehilangan Allah, maka itu pertanda bahwa hijrah kita telah berbalik arah, dari tauhid menuju dunia yang menipu.

Ibadah yang sejatinya menjadi jembatan menuju Allah, kini banyak yang terjebak menjadi rutinitas kering tanpa jiwa. Shalat ditegakkan lima waktu, namun tak mencegah perbuatan keji dan mungkar. Puasa dijalankan, tetapi lidah tetap tajam menyakiti, tangan tetap ringan mengambil yang bukan hak. Umat Islam seperti kehilangan kesadaran bahwa ibadah bukan sekadar gerakan dan bacaan, tetapi penghambaan total yang melatih hati tunduk dan jiwa bersih. Betapa banyak yang merasa telah memenuhi kewajiban agama hanya karena rajin ke masjid, tanpa pernah bertanya “Adakah Allah benar-benar hadir dalam ibadahku?” Inilah bentuk hijrah yang gagal, ketika ibadah tidak lagi menjadi sarana perubahan moral dan spiritual. Kita butuh kembali kepada ibadah yang hidup, yang menjadikan kita rendah hati, jujur, penyabar, dan adil. Sebab tanpa ruh itu, ibadah hanyalah gerakan kosong yang tak pernah mengantar kita mendekat kepada-Nya.

Akhlak adalah mahkota Islam, namun kini ia tergelincir dari kepala umat dan tercecer di jalan-jalan kehidupan. Kita menyaksikan generasi yang pandai berbicara tentang Islam, tetapi gagal menjelmakan nilai-nilainya dalam perilaku. Amanah diabaikan, janji dilanggar, rasa malu menghilang, dan kebohongan dijadikan strategi. Padahal, Rasulullah diutus bukan hanya untuk menyampaikan wahyu, tetapi juga menyempurnakan akhlak manusia. Di tengah kemajuan teknologi dan derasnya informasi, umat Islam justru kehilangan kesantunan, kejujuran, dan kasih sayang. Ironisnya, sebagian merasa sudah cukup berislam hanya dengan penampilan religius, padahal akhlaknya menyakiti, lisannya menyebar fitnah, dan tangannya gemar menindas. Ini adalah bentuk kemunduran paling menyakitkan, di mana kita merasa dekat dengan Islam, tetapi jauh dari adab. Hijrah akhlak adalah yang paling sulit, karena ia menuntut pengakuan jujur atas cela diri. Dan di sinilah medan tempur sejati itu. Bukan melawan musuh di luar, melainkan menaklukkan keburukan dalam diri sendiri.

Fenomena yang kini mencolok di tengah umat adalah menjamurnya Islam sebagai gaya hidup, bukan sebagai jalan hidup. Simbol-simbol religius tampil gemerlap. Hijab modis, desain Islami, konten dakwah yang viral, hingga label halal yang dijadikan strategi dagang. Namun di balik itu, spiritualitas Islam kian memudar. Banyak yang tampak religius di luar, namun hatinya kosong dari rasa takut dan cinta kepada Allah. Islam dijadikan aksesoris identitas, bukan kompas moral. Inilah wajah hijrah yang dipoles, tetapi

tidak mengakar. Kita melihat generasi yang sibuk membranding diri sebagai Muslim keren, tapi abai pada kejujuran, ketulusan, dan tanggung jawab. Padahal, Islam bukan sekadar tampilan luar yang menarik mata, tetapi jalan panjang menuju pembersihan jiwa. Ketika agama direduksi menjadi gaya hidup konsumtif, maka kita kehilangan kekuatan utamanya, yakni transformasi batin. Dan di sinilah hijrah sejati harus dikembalikan, dari kemasan menuju kedalaman.

Ironisnya, dalam semangat berubah yang menggema di mana-mana, banyak umat justru berhijrah ke arah yang salah. Mereka meninggalkan kebodohan lama, namun bukan menuju cahaya wahyu, melainkan ke pelukan nilai-nilai Barat yang asing dari ruh Islam. Dalam nama kemajuan, mereka menanggalkan adab. Atas nama kebebasan, mereka mengikis iman. Dan, demi keterbukaan, mereka menistakan syariat. Inilah hijrah yang tak lagi menuju Allah, tapi menuju budaya yang menjauhkan dari-Nya. Kita melihat orang bangga meniru cara berpikir Barat, berbicara dengan logika sekuler, dan menilai agama dengan ukuran rasionalisme kering. Padahal Islam memiliki khazanah peradaban yang agung, yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa harus menjadi bayang-bayang peradaban lain. Ketika orientasi hijrah bukan lagi untuk memperkuat iman, melainkan untuk mengejar pengakuan dunia, maka sesungguhnya umat sedang kehilangan kompas. Dan inilah saatnya untuk kembali bertanya, “hijrah kita ini, menuju siapa?”

Satu penyakit akut yang menggerogoti umat hari ini adalah ketika dunia tidak lagi dipandang sebagai ladang amal, tetapi dijadikan tujuan akhir. Pangkat, popularitas, kekayaan, dan citra di mata manusia telah menggantikan Allah sebagai pusat orientasi hidup. Dunia dipuja, dikejar, dan dibela habis-habisan, meski harus menginjak nilai-nilai agama. Inilah bentuk modern dari penyembahan berhala, bukan kepada patung, tetapi kepada ego dan ambisi duniawi. Banyak yang rela menggadaikan prinsip demi peluang, menjual integritas demi tepuk tangan, dan mengorbankan akhirat demi gelar dan pujian. Ketika dunia menjadi tuhan baru, maka agama pun diperalat, ayat disesuaikan dengan kepentingan, dalil dimanipulasi untuk pembenaran. Di sinilah makna hijrah sejati benar- benar diuji, apakah kita siap meninggalkan dunia yang memperbudak, untuk kembali menjadi hamba Allah yang merdeka? Sebab selama dunia menjadi kiblat, hijrah hanya akan menjadi wacana yang tak pernah mengakar.

Lebih mengkhawatirkan dari sebuah dosa adalah ketika dosa itu dinormalisasi. Kita hidup di zaman ketika penyimpangan tak lagi disembunyikan, tetapi dipertontonkan tanpa rasa malu, bahkan dibela dengan dalih hak asasi dan kebebasan berekspresi. Zina dianggap gaya hidup, riba dijustifikasi sebagai strategi bisnis, aurat dieksploitasi atas nama seni, dan korupsi dibungkus retorika pengabdian. Nilai-nilai Islam yang seharusnya menjadi batas dan rambu, kini dianggap usang, terlalu kaku, atau tidak relevan dengan zaman. Ini bukan sekadar dekadensi, tapi pembusukan nilai dari dalam. Ketika umat terbiasa hidup dalam atmosfer penyimpangan, maka hati mereka akan mati perlahan, tak lagi peka terhadap dosa, tak lagi gelisah oleh maksiat. Inilah bahaya besar yang sedang melanda, di saat penyimpangan yang dianggap biasa. Maka, hijrah hari ini bukan hanya tentang berubah, tetapi tentang berani berdiri tegak melawan arus yang membawa umat menuju jurang kehancuran nilai dan iman.

Mari Hijrah

Di tengah arus zaman yang kian menenggelamkan manusia dalam kesesatan nilai dan kekacauan moral, hijrah bukan lagi pilihan opsional, melainkan keharusan mutlak. Ia adalah jalan keselamatan yang ditawarkan Allah bagi mereka yang ingin selamat di dunia dan akhirat. Umat Islam tak bisa terus menerus berjalan di tempat, apalagi mundur ke

belakang dengan membawa nama Islam hanya sebagai simbol. Kita membutuhkan hijrah yang autentik, yang mengubah cara berpikir, cara merasa, dan cara hidup. Hijrah dari keserakahan menuju qana’ah, dari kemunafikan menuju kejujuran, dari kelalaian menuju kesadaran spiritual. Jika umat ingin bangkit dari kehinaan dan kembali menjadi rahmat bagi semesta, maka hijrah harus menjadi gerakan kolektif yang dimulai dari kesadaran individu. Tanpa itu, kita hanya akan menjadi mayoritas yang pasif, kehilangan daya saing dan daya suci. Maka, hijrah adalah solusi, bukan nostalgia. Ia adalah pintu pembebasan, bukan sekadar peringatan tahunan.

Hijrah sejati tidak pernah mudah. Ia menuntut keberanian meninggalkan zona nyaman, memutus keterikatan dengan dosa, dan berani tampil berbeda di tengah arus mayoritas yang menormalisasi penyimpangan. Banyak orang ingin berubah, tetapi takut kehilangan teman, rezeki, jabatan, atau pengaruh. Padahal, setiap langkah menuju Allah pasti diuji, sebab hijrah adalah bukti kesungguhan iman. Tak cukup hanya dengan niat baik dan air mata keinsafan, hijrah memerlukan komitmen jangka panjang, konsistensi di jalan kebaikan, serta kesabaran menghadapi godaan dan cibiran. Kita tak bisa berhijrah setengah hati, atau hanya ketika sedang semangat. Dunia tidak akan memberi karpet merah untuk orang-orang yang ingin taat. Maka, siapa pun yang ingin berhijrah, harus siap menjadi asing di dunia yang telah terlalu nyaman dengan kebatilan. Tapi justru di situlah kemuliaannya, menjadi hamba Allah yang teguh, meski harus berdiri sendirian. Sebab yang berdiri karena Allah, tak akan pernah benar-benar sendiri.

Datangnya tahun baru hijriah bukan sekadar penanda bergantinya angka dalam kalender, melainkan kesempatan emas untuk menata ulang arah hidup. Ia adalah panggilan sunyi dari sejarah agung Rasulullah SAW. dan para sahabat, agar kita juga berani melangkah keluar dari kehidupan yang penuh kelalaian menuju jalan yang penuh keberkahan. Inilah momentum terbaik untuk berhijrah, bukan dengan sekadar mengubah penampilan, tetapi mengubah prinsip, orientasi, dan cara menjalani hidup. Tahun baru ini seharusnya menjadi titik balik, bukan perayaan kosong. Sebab usia terus berkurang, dunia semakin menggoda, dan akhirat kian mendekat. Jika bukan sekarang kita memulai hijrah, kapan lagi? Jika tidak pada momen yang penuh makna ini, lalu apa yang kita tunggu? Jangan sampai kita melewati pergantian tahun dengan membawa dosa yang sama, kemunafikan yang sama, dan kealpaan yang sama. Karena hijrah adalah panggilan, dan waktu terbaik untuk menjawabnya adalah hari ini.

Hijrah bukan sekadar seruan kolektif, tetapi ajakan yang pertama-tama harus dijawab secara pribadi. Ia dimulai dari dalam hati, saat seseorang merasa cukup jujur untuk mengakui kesalahannya, cukup rendah hati untuk mengubah dirinya, dan cukup berani untuk meninggalkan kebiasaan buruk meski tak ada yang melihat. Hijrah bukan langkah besar yang instan, melainkan proses progresif yang ditempuh dengan ketulusan dan kesabaran. Tidak semua orang bisa langsung meninggalkan semua kekeliruannya, tapi setiap langkah kecil menuju Allah adalah bagian dari perjalanan besar itu. Jangan menunggu keadaan ideal atau lingkungan sempurna, sebab hijrah sejati tak menanti tepuk tangan manusia. Ia bermula dari tekad untuk hidup lebih taat, hari demi hari, meski tertatih. Dalam dunia yang ramai dengan pencitraan, hijrah sejati adalah revolusi sunyi yang dimulai dari diri sendiri. Dan dari satu jiwa yang berubah, lahirlah peradaban yang akan kembali bersinar.

Kini, saat kalender menandai tahun baru hijriah, marilah kita jujur bertanya, “Masih adakah makna hijrah dalam hidup kita, atau hanya tinggal simbol yang kita kagumi tanpa pernah kita jalani?” Umat ini tidak kekurangan syiar, namun kekurangan kesadaran. Tidak
kekurangan ustaz, namun miskin keteladanan. Hijrah yang dulu menjadi tonggak peradaban, kini nyaris menjadi nostalgia yang tak membekas. Inilah waktunya untuk mengembalikan ruh hijrah ke tempatnya yang mulia, sebagai panggilan untuk berubah, berbenah, dan kembali kepada Allah dengan sepenuh jiwa. Bukan hijrah kosmetik yang hanya menyentuh kulit, tetapi hijrah hakiki yang mengubah cara berpikir, bersikap, dan bermuamalah. Jangan biarkan hijrah terus hilang dari nurani umat. Karena selama hijrah dilupakan, Islam hanya akan hidup di baliho dan slogan, bukan dalam denyut kehidupan. Dan bila umat ini ingin bangkit, maka kuncinya ada pada satu kata yang kita lupakan, hijrah.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top